| |

RINGKASAN
STATUS PENCAPAIAN MDGs DI INDONESIA
MDG
1: MENANGGULANGI KEMISKINAN DAN KELAPARAN
Indonesia
telah berhasil menurunkan tingkat kemiskinan, sebagaimana
diukur oleh indicator USD 1,00 per kapita per hari, menjadi
setengahnya. Kemajuan juga telah dicapai dalam upaya untuk
lebih menurunkan lagi tingkat kemiskinan, sebagaimana diukur
oleh garis kemiskinan nasional dari tingkat saat ini sebesar
13,33 persen (2010) menuju targetnya sebesar 8 10 persen pada
tahun 2014. Prevalensi kekurangan gizi pada balita telah menurun
dari 31 persen pada tahun 1989 menjadi 18,4 persen pada tahun
2007, sehingga Indonesia diperkirakan dapat mencapai target
MDG sebesar 15,5 persen pada tahun 2015. Prioritas kedepan
untuk menurunkan kemiskinan dan kelaparan adalah dengan memperluas
kesempatan kerja, meningkatkan infrastruktur pendukung, dan
memperkuat sektor pertanian. Perhatian khusus perlu diberikan
pada:
-
perluasan fasilitas kredit untuk usaha mikro, kecil, dan
menengah (UMKM);
-
pemberdayaan masyarakat miskin dengan meningkatkan akses
dan penggunaan sumber daya untuk meningkatkan kesejahteraannya;
-
peningkatan akses penduduk miskin terhadap pelayanan sosial
-
perbaikan penyediaan proteksi sosial bagi kelompok termiskin
di antara yang miskin.
MDG
2: MENCAPAI PENDIDIKAN DASAR UNTUK SEMUA
Upaya
Indonesia untuk mencapai target MDG tentang pendidikan dasar
dan melek huruf sudah menuju pada pencapaian target 2015 (on-track).
Bahkan Indonesia menetapkan pendidikan dasar melebihi target
MDGs dengan menambahkan sekolah menengah pertama sebagai sasaran
pendidikan dasar universal. Pada tahun 2008/09 angka partisipasi
kasar (APK) SD/MI termasuk Paket A telah mencapai 116,77 persen
dan angka partisipasi murni (APM) sekitar 95,23 persen. Pada
tingkat sekolah dasar (SD/MI) secara umum disparitas partisipasi
pendidikan antarprovinsi semakin menyempit dengan APM di hampir
semua provinsi telah mencapai lebih dari 90,0 persen. Tantangan
utama dalam percepatan pencapaian sasaran MDG pendidikan adalah
meningkatkan pemerataan akses secara adil bagi semua anak,
baik laki-laki maupun perempuan, untuk mendapatkan pendidikan
dasar yang berkualitas di semua daerah. Berbagai kebijakan
dan program pemerintah untuk menjawab tantangan tersebut adalah:
-
perluasan akses yang merata pada pendidikan dasar khususnya
bagi masyarakat miskin;
-
peningkatan
kualitas dan relevansi pendidikan;
-
penguatan
tatakelola dan akuntabilitas pelayanan pendidikan.
Kebijakan
alokasi dana pemerintah bagi sektor pendidikan minimal sebesar
20 persen dari jumlah anggaran nasional akan diteruskan untuk
mengakselerasi pencapaian pendidikan dasar universal pada
tahun 2015.
MDG
3: MENDORONG KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
Berbagai
kemajuan telah dicapai dalam upaya meningkatkan kesetaraan
gender di semua jenjang dan jenis pendidikan. Rasio angka
partisipasi murni (APM) perempuan terhadap laki-laki di sekolah
dasar dan sekolah menengah pertama berturut-turut sebesar
99,73 dan 101,99 pada tahun 2009, dan rasio melek huruf perempuan
terhadap laki-laki pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun telah
mencapai 99,85. Oleh sebab itu, Indonesia sudah secara efektif
menuju (on-track) pencapaian kesetaraan gender yang terkait
dengan pendidikan pada tahun 2015. Di bidang ketenagakerjaan,
terlihat adanya peningkatan kontribusi perempuan dalam pekerjaan
upahan di sektor nonpertanian. Di samping itu, proporsi kursi
yang diduduki oleh perempuan di DPR pada Pemilu terakhir juga
mengalami peningkatan, menjadi 17,9 persen. Prioritas ke depan
dalam mewujudkan kesetaraan gender meliputi :
-
peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan;
-
perlindungan perempuan terhadap berbagai tindak kekerasan;
dan
-
peningkatan
kapasitas kelembagaan PUG dan pemberdayaan perempuan.
MDG
4: MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN ANAK
Angka kematian bayi di Indonesia menunjukkan penurunan yang
cukup signifi kan dari 68 pada tahun 1991 menjadi 34 per 1.000
kelahiran hidup pada tahun 2007, sehingga target sebesar 23
per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 diperkirakan dapat
tercapai. Demikian pula dengan target kema ? an anak diperkirakan
akan dapat tercapai. Namun demikian, masih terjadi disparitas
regional pencapaian target, yang mencerminkan adanya perbedaan
akses atas pelayanan kesehatan, terutama di daerah-daerah
miskin dan terpencil. Prioritas kedepan adalah memperkuat
system kesehatan dan meningkatkan akses pada pelayanan kesehatan
terutama bagi masyarakat miskin dan daerah terpencil.
MDG
5: MENINGKATKAN KESEHATAN IBU
Dari semua target MDGs, kinerja penurunan angka kematian ibu
secara global masih rendah. Di Indonesia, angka kematian ibu
melahirkan (MMR/Maternal Mortality Rate) menurun dari 390
pada tahun 1991 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada
tahun 2007. Target pencapaian MDG pada tahun 2015 adalah sebesar
102 per 100.000 kelahiran hidup, sehingga diperlukan kerja
keras untuk mencapai target tersebut. Walaupun pelayanan antenatal
dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih
cukup tinggi, beberapa faktor seperti risiko tinggi pada saat
kehamilan dan aborsi perlu mendapat perhatian. Upaya menurunkan
angka kematian ibu didukung pula dengan meningkatkan angka
pemakaian kontrasepsi dan menurunkan unmet need yang dilakukan
melalui peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB dan kesehatan
reproduksi. Ke depan, upaya peningkatan kesehatan ibu diprioritaskan
pada perluasan pelayanan kesehatan berkualitas, pelayanan
obstetrik yang komprehensif, peningkatan pelayanan keluarga
berencana dan penyebarluasan komunikasi, informasi dan edukasi
kepada masyarakat.
MDG
6: MEMERANGI HIV/AIDS, MALARIA DAN PENYAKIT MENULAR LAIINYA
Tingkat
prevalensi HIV/AIDS cenderung meningkat di Indonesia, terutama
pada kelompok risiko tinggi, yaitu pengguna narkoba sun ?
k dan pekerja seks. Jumlah kasus HIV/AIDS yang dilaporkan
di Indonesia meningkat dua kali lipat antara tahun 2004 dan
2005. Angka kejadian malaria per 1.000 penduduk menurun dari
4,68 pada tahun 1990 menjadi 1,85 pada tahun 2009. Sementara
itu, pengendalian penyakit Tuberkulosis yang melipu ? penemuan
kasus dan pengobatan telah mencapai target. Pendekatan untuk
mengendalikan penyebaran penyakit ini terutama diarahkan pada
upaya pencegahan dan pengarusutamaan ke dalam sistem pelayanan
kesehatan nasional. Selain itu, pengendalian penyakit harus
melibatkan semua pemangku kepentingan dan memperkuat kegiatan
promosi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
MDG
7: MEMASTIKAN KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP
Tingkat
emisi gas rumah kaca di Indonesia cukup ? nggi, walaupun upaya
peningkatan luas hutan, pemberantasan pembalakan hutan, dan
komitmen untuk melaksanakan kerangka kebijakan penurunan emisi
karbon dioksida dalam 20 tahun kedepan telah dilakukan. Proporsi
rumah tangga dengan akses air minum layak meningkat dari 37,73
persen pada tahun 1993 menjadi 47,71 persen pada tahun 2009.
Sementara itu, proporsi rumah tangga dengan akses sanitasi
layak meningkat dari 24,81 persen (1993) menjadi 51,19 persen
(2009). Upaya untuk mengakselerasi pencapaian target air minum
dan sanitasi yang layak terus dilakukan melalui investasi
penyediaan air minum dan sanitasi, terutama untuk melayani
jumlah penduduk perkotaan yang terus meningkat. Untuk daerah
perdesaan, penyediaan air minum dan sanitasi dilakukan melalui
upaya pemberdayaan masyarakat agar memiliki tanggung jawab
dalam pengelolaan infrastruktur dan pembangunan sarana. Di
samping itu, perlu dilakukan upaya untuk memperjelas peran
dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber
daya air dan pengelolaan sistem air minum dan sanitasi yang
layak. Proporsi rumah tangga kumuh perkotaan menurun dari
20,75 persen pada tahun 1993 menjadi 12,12 persen pada tahun
2009. Upaya untuk penurunan proporsi rumah tangga kumuh dilakukan
melalui penanganan pemukiman kumuh.
MDG
8: MEMBANGUN KEMITRAAN GLOBAL UNTUK PEMBANGUNAN
Indonesia
merupakan partisipan aktif dalam berbagai forum internasional
dan mempunyai komitmen untuk terus mengembangkan kemitraan
yang bermanfaat dengan berbagai organisasi multilateral, mitra
bilateral dan sektor swasta untuk mencapai pola pertumbuhan
ekonomi yang berdampak pada penurunan tingkat kemiskinan (pro-poor).
Indonesia telah mendapat manfaat dari mitra pembangunan internasional.
Untuk meningkatkan efek ? fi tas kerjasama dan pengelolaan
bantuan pembangunan di Indonesia, Jakarta Commitment telah
ditandatangani bersama 26 mitra pembangunan pada tahun 2009.
Bersamaan dengan ini, Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan
pinjaman luar negeri pemerintah terhadap PDB. Hal ini ditunjukkan
dengan menurunnya rasio pinjaman luar negeri pemerintah terhadap
PDB dari 24,6 persen pada tahun 1996 menjadi 10,9 persen pada
tahun 2009. Sementara itu, Debt Service Ratio Indonesia juga
telah menurun dari 51 persen pada tahun 1996 menjadi 22 persen
pada tahun 2009. Untuk meningkatkan akses komunikasi dan informasi,
sektor swasta telah membuat investasi besar ke dalam teknologi
informasi dan komunikasi, dan akses pada telepon genggam,
jaringan PSTN, dan komunikasi internet telah meningkat sangat
pesat selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2009, sekitar
82,41 persen dari penduduk Indonesia mempunyai akses pada
telepon seluler.
|
|
|
| |
MATERI
PAMERAN
|
|
| |

KLUSTER
- PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ( PNPM - Mandiri
)
-
Penyediaan dan perbaikan pasarana/sarana lingkungan permukiman,
sosial dan ekonomi secara kegiatan padat karya.
-
Penyediaan
sumberdaya keuangan melalui dana bergulir dan kredit mikro
untuk mengembangkan kegiatan ekonomi masyarakat miskin.
-
Kegiatan
terkait peningkatan kualitas sumberdaya manusia, terutama
yang bertujuan mempercepat pencapaian target MDGs.
-
Peningkatan
kapasitas masyarakat dan pemerintahan lokal melalui penyadaran
kritis, pelatihan ketrampilan usaha, manajemen organisasi
dan keuangan, serta penerapan tata kepemerintahan yang baik.
KLUSTER
- CSR
Merupakan
sarana penyebarluasan informasi kepada masyarakat Indonesia
dan Dunia International mengenai kinerja dan prestasi program
CSR yang terintegrasi dengan PNPM, yang telah dan akan dilakukan
dalam pelaksanaan program-program pemberdayaan masyarakat dilingkungan
masing-masing oleh dunia usaha dan lintas sektoral lainnya.
KLUSTER
MDGs)
-
Penurunan
Angka Tingkat kemiskinan dan kelaparan
-
Pencapaian
Pendidikan Dasar Universal
-
Promosi
Kesetaraan Jender dan Pemberdayaan Perempuan
-
Pengurangan
Angka Kematian Anak Balita
-
Peningkatan
Kesehatan Ibu
-
Penanggulangan
HIV/AIDS dan Penyakit Menular Lainnya
-
Pembangunan
Lingkungan Hidup Berkelanjutan
-
Pengembangan
Kemitraan Global untuk Pembangunan
|
|
| |
Profil
Peserta
- Kementerian/
Instansi Pemerintah
- Pemerintah
Daerah Propinsi
- Pemerintah
Daerah Kabupaten / Kota
B U M N / Swasta Nasional - Investasi
- Infrastruktur
Jalan, Pengelolaan air bersih
- Perbankan
/ Lembaga Keuangan Non Bank/Koperasi
- Lembaga
Donor
- Dharma
Wanita / Pengurus PKK
- Usahawati
& Organisasi Profesi
- Pemberdayaan
Perempuan
- Konsultan
Pengembangan Daerah Pedesaan / Kota
- Lembaga,
Asosiasi Profesi, Konsultan Pedidikan
- Lembaga
Pelayanan, Asosiasi Profesi Bidang Kesehatan
- U
M K M & Pengembangan Pasar
- Media
elektronik, cetak dan Teknologi Informasi
BIAYA
& FASILITAS KEPESERTAAN
Melalui
kontribusi kepesertaan sebesar Rp.2.500.000/m2, maka fasilitas
pameran yang didapatkan oleh peserta adalah :
-
Special Design (design terlampir)
- 1
(satu) buah Meja
- 2
(dua) buah Kursi
- Listrik
2 Amp (440 watt)
- Lampu
TL @40 watt
- Fascia
Name
- Lantai
Karpet
- Penghargaan
sebagai peserta pameran
- Undangan
menghadiri Opening dan Closing Ceremony
- Menjadi
Nominasi dalam GKPM Award 2012
- Kesempatan
mengisi acara di panggung (harap menghubungi panitia untuk ketersediaan
waktu dan tempat)

|
|
|